Anak Laki-laki yang Memberi
Makan Mimpi Buruk (악몽을 먹고 자란 소년)
Awal episode dimulai dengan narasi dan animasi dongeng,
Dahulu kala, hiduplah
gadis cantik di kastel nan jauh tengah hutan, Gadis itu kesepian dan jenuh
karena selalu sendiri. Pada suatu hari, dia keluar dari kastel untuk mencari
teman bermain. Namun sebagus apapun hadiah yang diberikannya tidak ada yang
menerima gadis itu. Gadis itu kemudian mengetahui alasannya. Monster yang
menyeret bayang bayang kematian. Orang-orang memanggilnya seperti itu.
"Dia adalah monster! Monster." Gadis itu sangat marah dengan seluruh
orang di dunia ini. Dia perlu melampiaskan amarahnya.
(dia menemukan
pengait dan tali yang sudah dikaitkan pada pengait itu, dia menggunakan itu
untuk menangkap ikan, tangkapan pertama gadis itu mendapatkan ikan
kemudian menginjaknya, dan ikan itu pun mati, tangkapan kedua gadis itu
mendapatkan ikan lagi kemudian menginjaknya lagi, dan ikan itu pun mati,
tangkapan ketiga gadis itu mendapatkan seorang lelaki, kemudian menginjaknya,
dan lelaki itu pun selamat.)
Setelah tanpa sengaja
menyelamatkan lelaki itu, bayangan gelap yang mengikuti gadis itu mendadak
lenyap. Tapi sebagai gantinya, lelaki itu terus mengikuti gadis itu. Saat malam
maupun siang. Entah melewati gunung atau ladang. Dia terus mengikuti gadis itu.
Pada suatu hari yang cerah, gadis itu bertanya.
gadis : "Hei, Apa kau akan selalu
menemaniku?".
lelaki : "Tentu saja. Aku tidak akan pernah melarikan
diri."
gadis : "Walaupun seperti ini?" (menyobek kupu-kupu, dan di tanah terlihat sudah
banyak berserakan sayap kupu-kupu, hingga tertiup angin)
(melihat si gadis menyobek kupu-kupu, lelaki itu terkejut
ketakutan dan langsung berlari pergi meninggalkan gadis itu. dan pengait dan
tali yang tersangkut di bajunya pun terlepas, dan ujung tali itu ternyata
terikat di tangan gadis itu)
Gadis itu menjadi
sendiri lagi. Bayang-bayang kematian itu kembali mengikutinya dan
berbisik, "Mustahil ada orang di sampingmu, karena kau adalah
monster. Jangan pernah lupakan itu. Apa kau mengerti?"
Si gadis yang tak lain adalah Moon Young berkata, "Ya,
Ibu."
Di suatu tempat Sang Tae sedang mengmbil buku dongeng di
lokernya, dan di sebuah bis, di umumkan Pemberhentian SMK Daun.
Pemberhentian selanjutnya... Kang Tae pun segera memencet bel tanda
bahwa dia akan turun disana. Kang Tae segera turun dan memakai jaketnya, dan
menuju ke SMK Daun. Di sebuah ruangan Kang Tae di marahi oleh Kepala
sekolah, "Di kelas, dia tiba-tiba berteriak membuat keributan.
Bukan main."
Dan sekilas kejadian yang sebenarnya, teman Sang Tae,
membantu Sang Tae untuk membuka helm dan menyentuh bagian belakang kepala Sang
Tae, dan Sang Tae langsung berteriak histeris dan terus berkata "Tidak!"
Di dalam ruangan kepala sekolah
masih marah-marah "Tidak ada gunanya menghentikan dia. Ini sudah
berulang kali terjadi. Lihat aku! Kenapa semuanya harus gelisah dan merasa tak
nyaman hanya karena Sang Tae? Kita harus pikirkan masalah keamanan dan dia
terlalu merepotkan bagi kita. Kirim saja dia ke sekolah khusus atau pusat
kesejahteraan sosial. Itu pilihat terbaik bagi kita. Silakan berpendapat lain.
Bagaimana pendapatmu? Mohon katakan sesuatu! Astaga." Kang Tae hanya
diam saja tidak merespon Kepala sekolah.
Di luar pintu Sang Tae komat kamit "Apa dia
marah? Marah… Dia kesal. Lihat aku.. Ekspresi
menunjukkan emosi." Sang Tae
melihat Kang Tae ke dalam ruangan lewat kaca di pintu, dan Kang Tae membalas
tatapan Sang Tae dari dalam ruangan, dan Sang Tae berkata “Dia Marah.”
Kang Tae membuka loker Sang Tae
dan memasukkan semua barang yang ada di loker ke dalam tas. Saat akan menutup
loker, Kang Tae melihat cermin yang tertempel di loker, Kang Tae melihat Sang
Tae dari cermin tersebut, Sang Tae sedang duduk di kursi tak jauh dari loker.
Kang Tae menghampiri Sang Tae dan berlutut di depan Sang Tae, menatap Sang Tae
seperti marah namun kemudian tersenyum. Sang Tae melihat kearah Gang Tae.
Kang Tae : “kakak. Apa kau lapar?”
Kemudian mereka terlihat sedang
berjalan kaki hendak pulang
Kang Tae : “Mau makan apa? Kau hanya bersekolah di sana untuk
sementara. Setelah pindah aku akan carikan yang lebih bagus. Aku janji.” Kang Tae memberi
jari kelingkingnya pada Sang Tae, Tapi Sang Tae tidak menggubrisnya.
Kang Tae : “Apa kau kesal?’
Sang Tae : “Aku mau jamppong.”
Kang Tae : “Apa?”
Sang Tae : “Tangsuyuk dengan saus terpisah. Jangan pergi ke
Jageumseong. Kita makan saja di Yangjagang.”
Kang Tae : ”Baiklah. Ayo makan sampai kenyang di Yangjagang.”
Kang Tae merangkul kakaknya
Sang Tae : “Makanannya enak sekali. Apa kau ingat?”
Kang Tae : ”Kapan kali terakhir kita ke sana?”
Sang Tae : “Tenang saja. Aku traktir. Aku kakakmu.”
Di sebuah restoran terlihat Moon
Young sedang menyantap sarapannya. Lalu terlihat ada pelanggan restoran datang,
Ibu dan anak. Si anak melihat ada Moon Yeong disana, ia pun berbisik pada
ibunya, ibunya pun mengangguk, mereka pun menhampiri Moon Young.
Ibu : “Apa benar kau Penulis Go Mun Young?”
Moon Young : “Ya.”
Anak : “Lihat? Benar kataku.”(anak itu
berkata kepada ibunya)
Ibu : “Anakku adalah penggembarmu. Maaf mengganggu. Bisakah
kau tanda tangan di buku ini?”
Moon Young mengambil buku itu, dan
menanyakan nama si anak
Moon Young : “Siapa namamu?”
Anak : “Lee Seul Bi.”
Ibu : “Aslinya cantik sekali, ya?” (Ibu berbicara pada
anaknya)
Anak : “Benar. Kau seperti putri kerajaan dari buku dongeng.”
Moon Young terkejut dikatakan
seperti seorang putri kerajaan. Moon Young sudah selesai tanda tangan, dan
bertanya kepada si anak
Moon Young : “Kenapa aku seperti putri kerajaan?”
Anak : “Karena kau cantik. Ibuku juga selalu memanggilku
*putri* karena aku cantik”
Moon Young heran, dan si ibu
tersenyum ke Moon Young
Moon Young : “Bu, mau berfoto bersama juga?”
Ibu : “Tentu saja. Terimakasih.”si ibu berbicara pada Moon
Young “Berdirilah di sampingnya.” Si ibu berbicara pada anaknya
Si anak langsung berlari kearah
Moon Young dan duduk di pangkuan Moon Young
Moon Young : “Ayo kemari.”
Si ibu sedang bersiap untuk
berfoto dan si anak dan Moon Young sudah siap untuk di foto, masih pada
posisinya, Moon Young mengajak si anak berbicara berbisik.
Moon Young : “Kau pasti bukan penggemarku.”
Anak : “Apa?”
Moon Young : “Dalam buku dongeng yang kutulis, penyihir yang
selalu cantik. Siapa bilang semua putri kerajaan selalu baik dan cantik? Apa
ibumu yang bilang?”
Ibu : “Putri, lihat kea rah sini.”
Moon Young : “Jika kau ingin cantik, katakanlah ini. Ibu aku
akan menjadi penyihir yang cantik.”
Ibu : “Satu, dua, tiga”
Si anak berteriak dan langsung
berlari keluar restoran sambil terus berteriak, dan ibunya berlari mengejar
anaknya. Si anak dan ibu berpapasan dengan CEO Perusahaan penerbitan yang
bernama Lee Sang-In di tangga restoran, Lee Sang In hendak menemui Moon Young.
Lee Sang-In menghela nafas dan berkata “Astaga.”Lee Sang-in pun masuk ke
restoran.
Lee Sang in : “Astaga Mun Yeong.” Lee Sang-In
masuk ke ruangan yang salah karena disana tidak ada Moon Young, Lee Sang-In
keluar dan melihat bahwa Moon Young ada diruangan yang lain. “Selamat pagi,
Moon Young. Kenapa ada rantai? Merepotkan sekali. Ia pun melompati rantai
itu. “Kenapa anak kecil itu menangis pagi-pagi begini?”
Moon Young : “Mungkin dia terharu. Karena aku meluruskan
stereotip yang salah.”
Lee Sang-In : “Apa-apaan…” baru saja akan berkomentar, Moon
Young menatap tajam Lee Sang-In. “Kau, bagus sekali. Bagi anak-anak
stereotip lebih menakutkan daripada harimau dan cacar, dan kau meluruskannya.
Kau memang hebat Moon Young.” Hp Lee Sang-In berbunyi “Tunggu
sebentar.” Setelah dilihat siapa yang menelepon Lee Sang-In segera ingin
menutupkan dan berkata. “Aku tidak perlu pinjaman. Aku punya banyak uang.
Ayo kita berangkat. Karena ada waktu sekitar dua jam, kita bisa mampir ke salon
terlebih dahulu.”
Moon Young : “Untuk apa?” Sambil menyilangkan tangannya
Lee Sang-In : “Kau tidak bisa pergi seperti ini. Kau seperti
Francesca yang akan melayat di pemakaman Keluarga Addam. Kau mau mengunjungi
bangsal anak seperti ini? Kau kesana untuk memberikan mimpi dan harapan bukan
menakuti mereka. Lalu mendongeng buu yang kau tulis. Tapi penampilanmu….”
Moon Young : “Katamu stereotip itu menakutkan?
Lee Sang-In : “Kau yang seperti ini lebih menakutkanku. Moon
Young tolonglah” Moon Young mengambil pisau pemotng makanan yang ada di meja dan
memainkannya. “Kau harus berbusana mengikuti WTT : Waktu, Tempat, dan
Tujuan.” Kemudian Moon Young membuat suara yang memekakkan telinga, dari
ujung pisau yang di sentuhkan ke piring dan menarik piasu itu dengan tetap
menyentuh piring. “Aku akan meminta mereka untuk mendatangimu.” Mun
Young mengehentikan gerakan pisaunya.
Moon Young : “Apa kau tahu alasanku menyukai restoran ini?”
Lee Sang-In : “Karena steaknya….”
Moon Young : “Bukan. Pisaunya sangat tajam” Moon Young
menggoreskan pisau itu ke ujung jarinya. “Lihat ini?” dia terlihat
senang.
Lee Sang-In : “Moon Young kau berdarah.”
Moon Young : “Cantik sekali. Aku menginginkannya.”
Moon Young langung bangun dari
kursinya berjalan keluar restoran sambil membawa pisau itu. Lee Sang-In
kewalahan menghadapinya, dia minum air dan berkata “Astaga.” Kemudian
segera menyusul Moon Young. Pelayan restran memnggil Moon Young karena membawa
pisau restoran. Tapi kemudian Lee Sang-In memberikan uang suap untuk tutup
mulutke pelayan restoran itu.
Di ruang ganti di suatu rumah
sakit, terlihat Kang Tae sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian dinas.
Kemudian ada perawat permpuan yang mengetok pintu ruang ganti, dan menyuruh
Kang Tae segera pergi ke ruang istirahat. Tiba di ruangan itu, pasien lain
marah marah karena semua makanannya diambil oleh salah satu pasien perempuan,
pasien lain berpendapat bahwa pasien yang mengambil semua makanan itu sudah
kelaparan berhari hari. Kang Tae menghampiri pasien itu, dan berjongkok di
depan pasien itu.
Kang Tae : “Nona Myeong Ji-Suk.” Pasien itu
melihat kea rah Kang Tae dan tersenyum
Pasien : “Suamiku. Aku lapar sekali.”
Kang Tae : “Jika kau makan semuanya tanpa henti, perutmu akan
sakit dan tak nyaman. Jangan makan semuanya sekaligus. Makanlah secara
perlahan, sedikit demi sedikit. Lebih baik jika kau bisa berbagi.”
Pasien : “Katamu aku cantik karena makan dengan lahap.”
Kang Tae : “Bukan itu maksudku. Jika kau menyukai seseorang
saat dia makan pun terlihat cantik. Pasien itu terawa tersipu malu,
dan langsung memeluk Kang Tae dan berkata “Suamiku.” Sambil
menggoyang-goyangkan Kang Tae, perawat mendekat hendak menyuntikkan obat
penenang, tapi si pasien kembali berkata “Tapi, kenapa kau berselingkuh
dengan model kurus itu?” Pasien itu memasukkan jari telunjukkan ke dalam
mulut, dan si pasien pun muntah di punggung Kang Tae. Pasien tidak hanya muntah
sekali tapi dua kali. *Hahaha disini lucu karna berbagai macam animasi air
mengalir, sampah mengalir, pasir mengalir, susu mengalir, air terjun, yang
semuanya itu mengalir dari atas ke bawah ditampilkan, mewakili muntahan yang
tidak ditampilkan, hahaha*
Kang Tae : ”Tidak apa-apa.” sambil
tersenyum, tapi si pasien langsung menampar Kang Tae.
Pasien : “Jangan tersenyum, Itu memuakkan.
Di ruangan lain,
Terdapat seorang petugas sedang
melakukan terapi aktivitas kelompok. Petugas itu menginstruksikan “Angkat
tangan mu membentuk huruf W. Lalu
turunkan dengan rileks”
Pada saat yang sama seorang pasien laki-laki sedang
dibawa ke ruang isolasi oleh petugas.
Paien : “Lepaskan aku”
Petugas : “Diam”
Pasien : “Kenapa aku dibawa kesini? Lepaskan aku! Lepas!
Tempatku bukan disini! Tidak! Lepaskan! Tempatku buka disini! Lepas”
Kang Tae : “Apa dia pasien baru?” Kang TAebertanya
pada dokter dan perawat.
Dokter : “Dua hari yang lalu, dia dan anaknya masuk IGD
karena overdosis alprazolam. Dia pernah rawat jalan karena pengaruh kecemasan.
Dia mau bunuh diri dengan anaknya. Sepertinya sebelum bunuh diri, dia berniat
untuk membunuh anaknya”
Pasien : “Go-eun dimana? Anakku di mana?” Anaknya sedang
ada di ruang terapi anak dan sedang menggambar
Dokter : “Untung anaknya langsung muntah setelah diberikan
obat. Sekarang dia sedanng konseling PTSD di bagian psikologi anak.”
Di ruangan anak terlihat Go-eun
dan Psikiater sedang duduk berhadapan di meja.
Psikiater : “Go-eun?Apa yang sedang kau pikirkan?” (Go-eun hanya
geleng-geleng)
Di meja perawat, terlihat dokter membelakangi Komputer yang
memperlihatkan CCTV di dalam ruang isolasi.
Pasien : “Lepaskan aku!”
Dokter : “Dia akan menerima tes kejiwaan sore ini. Periksa
vitalnya setiap satu jam. Ketika kalian memberikan infus, periksa kembali tali
pengikat pasien.” (Dokter berbicara kepada Kang Tae dan perawat lain)
Kang Tae : “Baik.”
Di dalam mobil CEO Lee Sang-In,
Art director Yoo Seung-Jae dan Moon Young sedang dalam perjalanan menuju rumah
sakit, tempat Moon young akan membacakan dongengnya pada para pasien bangsal
anak.
Lee Sang-In : “Setelah mendongeng ada sesi Tanya jawab.
Kemudian bagikan buku bertanda tangan kepada anak-anak. Lalu berfoto bersama
pengurus rumah sakit sekaligus penutupan acara. Haaah… Aku ini CEO di
perusahaan penerbit, tetapi tugasku seperti asisten pribadi. Aku merasa
kehilangan identitasku.” (CEO sedang melihat jadwal di dalam
tabletnya)
Yoo Seung-Jae : “Awalnya aku direkrut sebagai penata
artistik. Aku tidak menyangka akan menjadi pesuruhmu seperti ini.”
Lee Sang-In : “Bukankah saat wawancara kau bersedia melakukan
apa pun?”
Yoo Seung-Jae : “Kau hanya memintaku melakukan pekerjaan yang
menggunakan tenaga bukan pikiran.“
Lee Sang-In : “Aku baru tahu kau bodoh, setelah menerimamu.
Lalu mau bagaimana? Mau kupecat?
Yoo Seung-Jae : “Tidak” (sambil geleng-geleng, tiba tiba
ponsel CEO berbunyi, dan dia kaget dengan siapa yang menelepon, di layar mobil
terlihat siapa yang menelpon) “Rumah Sakit Jiwa OK? Apa kau mengunjungi
psikiater? Pilihat yang tepat!” (CEO panik karena kata kata Yoo Seung-Jae
pasti di dengar Moon Young yang duduk di kursi belakang)
Moon Young : “Angkat.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar