Kamis, 02 Juli 2020

SINOPSIS IT'S OKAY TO NOT BE OKAY EPISODE 1 | PART 3



Moon Young : “Apa kau pernah membunuh? Kau tak punya nyali untuk hidup, tapi tak mau mati seorang diri. Jadi kau menggunakan anakmu untuk membuka jalan kematian?”

Ayah Go-eun : “Apa?”

Moon Young : “Jangan menjadi pecundang. Mati saja seorang diri.

Ayah Go-eun : “Dasar wanita gila!” (mendekat kearah Moon Young dan Mon Young memukulkan tasnya pada pasien itu, isi tas berserakan, dan pisau restoran yang Moon Young ambil, keluar dari dalam tasnya. Pasien dan Moon Young sama sama melihat pisau itu, si pasien berusaha mengambil pisau itu, tapi belum sampai untuk mengambil, Moon Young menginjak tangan pasien itu dengan sepatu high heels nya kemudian menendang pisau itu agar lebih jauh dari jangkauan pasien.. Si pasian marah dan bangun kemudian menyerang Moon Young, dan Moon Young jatuh kelantai dan di cekik oleh pasien itu. Go-eun berlari keluar dari ruangan itu, dan setelah keluar ruangan, di depan pintu ia bertemu dengan Kang Tae.

Kang Tae : “Kau baik-baik saja?”

Go-eun : “Ayahku di sana…” (Kang Tae menenangkan anak itu, dan Kang Tae mengeluarkan ponselnya dari saku dan menelpon petugas RS lainnya, di dalam ruangan Ayah Go-eun masih mencekik) Moon Yeong.

Ayah Go-eun : “Aku akan membunuh mu. Beraninya ikut campur! Dia anakku! Aku berhak membunuhnya jika mau!”

Moon Young : “Cekik aku.Lebih keras. Bedebah.”

Ayah Go-eun : “Dasar gila! Enyah! Mati kau!”

 (Moon Young terlihat pasrah, dia seperti melihat Wajah Ayahnya pada Ayah Go-eun, posisinya sangat mirip, dimana dulu saat Moon Young masih kecil, Ayah Moon Young juga pernah mencekiknya dan dia juga ingat kata-kata ayahnya dulu saat mencekiknya “Ini akan berakhir dengan cepat. Hanya sebentar saja. Ini akan berakhir dengan cepat.”  Dan Moon Young kecil mencakar tangan kanan ayahnya hingga berdarah, dan menyisakan bekas hingga sekarang)

Ayah Go-eun : “Enyah! Mati Kau! Mati!”

Setelah itu, Kang Tae masuk ke dalam ruangan

Kang Tae : “Pak Kim Seung Cheol!”

Kang Tae segera menarik pasien itu agak berhenti mencekik. Dan Moon Young akhirnya terbebas, ia terlihat batuk-batuk. Dan Kang Tae sedang bergulat dengan pasien. Pasien berhasil mendorong Kang Tae hingga mengenai alat pencahayaan panggung. Moon Young bangun dan mengambil pisaunya tadi. Kang Tae berhasil meringkus pasien dan mengikat kedua tangan pasien di belakang, menggunakan infus set yang dia ambil sebelumya di ruang tindakan atau penyimpanan alat medis. Moon Young mendekati pasien dan melayangkan pisauny kearah pasien. Tapi Kang Tae menahan pisau itu dengan menggenggamnya, hingga terlihat darah mengucur ke lantai. Mereka berdua saling menatap.

Moon Young : “Rupanya, ini bukan takdir. Aku berharap kau tidak ikut campur. ”

Kang Tae : “Lepaskan pisaunya. Dia adalah pasien.”

Moon Young : “Bukan. Dia bukan pasien. Tapi hama.”

Ayah Go-eun : “Apa kau sudah gila? Kau benar-benar sudah gila! Kau seperti psikopat!”

(Ayah Go-eun berlari keluar ruangan, Moon Young dan Kang Tae masih di ddalam ruangan, Moon Young melihat kepergian pasien itu, dan Kang Tae memanfaatkan kesempatan untuk mengambil pisau itu dari tangan Moon Young.)

Ayah Go-eun : “Dasar wanita gila! Aku nyaris mati karena wanita itu!” (Dan di pintu keluar petugas medis lain sudah datang dan menangkap pasien) “Lepaskan aku! Jangan tangkap aku, tapi dia! Tangkap wanita gila itu. Lepaskan aku! Sudah kubilang, tangkap wanita gila itu! Lepaskan!”

Dari dalam ruangan, Moon young dan Kang tae mendengar teriakan pasien itu. Kang Tae mengeluarkan saputangan dari dalam sakunya. Dan membungkus pisau yang masih ia genggam. Moon Young memperhatikan itu.

Moon Young : “Apa pisaunya terluka? Kenapa kau membalut pisaunya? Jika dia mengalami gangguan jiwa, aku hanya membela diri. Aku hanya berniat memberi sedikit sayatan. Kau terluka karena terlalu berlebihan. Berikan kepadaku.” (Kang Tae menatap Moon Young) “Bukan pisau, tapi tanganmu”  (Moon Young mengambil pisau yang sudah dibalut itu dari tangan Kang Tae. Kemudian melempar pisau itu kebelakang dan mengambil saputanganya untuk membalut tangan Kang Tae.) “Ini pelayanan special dariku. Apa kau tahu? Di dunia ini, ada orang-orang yang pantas mati mengenaskan. Berkat beberapa psikopat. Yang diam-diam mebunuh mereka. Warga yang tak tahu apapun, bisa tidur dan makan dengan tenang” (Moon Young mengikat saputangan itu dengan kencang hingga Kang Tae mengernyit) “Menurutmu aku yang mana? (Mereka saling menatap)

Kang Tae : “Psikopat yang tak tahu apapun.” (Moon Young tersenyum)

Di ruang tindakan terlihat dokter sedang menjahit tangan Kang Tae yang terkena pisau.

Dokter : “Astaga. Berkatmu kemampuan menjahitku meningkat. Mulai sekarang, berhenti melukai diri sendiri.” (Kang Tae hanya diam termenung saat tangannya dijahit) “Perawat Moon?” (Kang Tae tidak menjawab, karena dia sibuk termenung, dokterpun memanggilnya lagi) ”Perawat Moon Kang Tae?” (Kang Tae pun tersadar dari lamunannya)

Kang Tae : “Ya?”

Dokter : “Apa yang sedang kau pikirkan? Sudah selesai.”

Di lobi rumah sakit, CEO Lee Sang-In sedang berjalan keluar RS bersama Moon Young

Lee Sang-In : “Baiklah. Anggap saja acara hari ini berantakan akibat keributan yang dibuat oleh pasien yang kabur itu. Tapi bagaimana dengan penusukan? Bagaimana menjelaskannya? Kudengar ada petugas rumah sakit yang terluka. Bagaimana jika mereka mengeluarkan berita? Penulis buku dongeng anak mengayunkan pisau. Apa novel berikutnya seni bela diri? Bagaimana jika berita seperti itu muncul?”

Moon Young : “Gunakan uang mu, Sudah sering, kan?”

Lee Sang-In : “Bagaimana jika tidak berhasil?”

Moon Young : “Rayu dengan jebakan pesonaku” (CEO menghela nafas dan memegang leher belakangnya, mereka sampai di pintu keluar dan mobil yang di kendarai art director Yoo Seung Jae sudah tiba, CEO berlari menghampiri mobil dan mebuka pintu belakang, Moon Young hanya menatapnya, dan kemudian memakai kacamata hitamnya) “Kau saja. Aku ada urusan.”

Lee Sang-In : “Urusn apa?” (Moon Young Langsung berbalik dan masuk lagi ke rumah sakit. “Hei, Go Moon Young. Apa dia mau membuat onar lagi?”

Di suatu ruangan, Kang Tae sedang dimarahi oleh manager RS.

Manager RS : “Pasien yang seharusnya di ruang isolasi membuat keributan di acar mendongeng. Karena kejadian itu, panggilan pengaduan dari wali pasien terus masuk. Aku harus segera mencari kambing hitam.

Kang Tae : “Apa itu aku?”

Manager RS : “perawat yang bertanggungjawab baru bekerja dua bulan. Tidak mungkin jika memecatnya. Jika melihat daftar riwayat hidupmu. Selama sepuluh tahun pengalaman kerjamu, kau sudah bekerja di 15 rumah sakit. Selalu kurang dari satu tahun. Kau sudah bekerja disini selama sepuluh bulan. Sudah saatnya kau berhenti, kan? Kau akan dianggap sudah bekerja satu tahun dan akan mendapat pesangon. Mari kita selesaikan disini”

Kang Tae terlihat mengembalikan kartu identits pegawainya dan sudah mengenakan baju biasa dan menjinjing tasnya,, bersiap untuk pergi dari RS. Perawat laki-laki yang sebenarnya harus bertanggungnya jawab atas insiden kaburnya pasien. Memanggil Kang Tae, Tapi Kang Tae hanya geleng-geleng, seolah-olah berkata tidak apa-apa sambil tersenyum. Tapi saat berbalik badan dan berjalan keluar ruangan ekspresi Kang Tae berubah

Di suatu hotel, terlihat Moon Yeong sedang membersihkan diri di Toilet, dan CEO Lee Sang-In ada di ruang tamu, dia hendak menelpon seseorang. ”Halo, ini aku. Tolong berikan aku kontak perawat yang ditusuk Moon Young. Berikan saja! Aku harus lkukan sesuatu untuk menutup mulutnya. Ini bukan pertama kalinya.”

Di halte bus, Kang Tae terlihat duduk di halte bus, saat bus datang Kang Tae tetap duduk termenung, dan tidak naik ke bus itu. Ponselnya bordering terlihat nomor tidak dikenal menelpon, Kang Tae menolak telpon itu, dan memasukkan kembali ponselnnya ke dalam saku. Kemudian, teman Kang Tae, Joo Jae soo datang mengendarai sepeda motor, dan membuka helmnya.

Jae-soo : “Aku sedang mengantar makanan, dan melihat kau duduk di pinggir jalan, seperti ayam yang kesakitan” (mereka tersenyum, lalu Jae-soo melemparkan helm satunya lagi ke Kang Tae) “Naiklah! Aku akan mengantarmu.”

Kang Tae : “Dasar gila.”

Jae-soo : “Kau terluka lagi?”

Di depan lobi hotel terlihat perawat Nam Joo-ri datang dengan taksi, sepertinya ia akan bertemu Moon Young dan memberikan surat persetujuan operasi pada Moon Young. Di dalam ruang tamu kamar Moon Young, CEO sedang pusing, ternyata dia yang menelpon Kang Tae, dia pusing karena telponnya tidak diangkat “Apa sengaja tak diangkat? Jika tak diangkat, dia mungkin menggugat ke pengadilan.” (Tiba-tiba ponsel CEO bordering, ternyata itu telpon dari perawat Nam Joo-ri yang mengatakan kalau dia sudah sampai. CEO pun segera mengambil barang-barangnya dan engendap ngendap untuk keluar dari kamar itu. Setelah itu, bel pintu berbunyi. Dari dalam kamar mandi Moon Young berteriak “Apa kau memesan layanan kamar?” Tapi tidak ada jawaban, Moon Young pun keluar untuk membuka pintu “Kemana dia?” saat membuka pintu Moon Youn dan Nam Joo-ri saling bertatapan.

Di jalan Kang Tae dan temannya sedang mengendarai motornya. Tiba tiba saja motor teman Jae-soo mogok, dan mereka terpaksa pulang berjalan kaki sambil menuntun motor yang mogok itu, dan Kang Tae membantu mendorong motor. Saat sedang berjalan..

Jae-soo : “Kang Tae, Aku benar tidak apa-apa. Sang Tae menunggu dirumah. Naik taksi dan pergilah. Ini tidak berarti kau meninggalkanku! Aku memahamiku! Ini Soal persahabatan dan kesetiaan! (*Hahaha disini lucu Jae-soo ngmong sambil triak triak dan mendramatisir*)

Kang Tae : “Berisik. Terus dorong saja.”

Jae-soo : “Baiklah.”

 Di dalam hotel kamar Moon Young, perawat Nam Joo-ri sedang memegang surat persetujuan wali. Nam Joo-ri menunduk, sedangkan Moon Young terus memandang Joo-ri dengan seksama.

Moon Young : “Ku banyak berubah. Aku nyaris tidak mengenalimu karena kau melepas kenorakanmu.” (Perawat Nam Joo-ri melihat kearah Moon Young dan tersenyum) “Setelah aku pindah sekolah, sudah 20 tahun kita tak bertemu, ya?”

Nam Joo-ri : “Ya. Kau hanya perlu tanda tangan di sini. Kau pasti sudah mendengar penjelasannya melalui telepon. Seharusnya kau datang dan…”

Moon Young : “Hanya untuk sebuah tanda tangan di dokumen ini, kau menempuh jarak tiga jam kemari. Ini rasa tanggung jawab, atau sikap berlebihan?”

Nam Joo-ri : “Karena rumah sakit kami hanya menangani pasien gangguan mental, semua operasi bedah dilakukan di rumah sakit rujukan. Untuk kasus ayahmu…”

Moon Young : “Dia sudah mati. Aku anak yatim. Kau tahu, kan?”

Nam Joo-ri : “Tapi ibumu masih hidup….”

Moon Young : “Sudah lama kudaftarkan meninggal. Mau kuceritakan kisah lucu? Jiwa yahku telah tiada, tapi raganya masih hidup seperti zombie. Sementara ibuku, raganya telah tiada sejak lama, tapi… jiwanya masih hidup sampai sekarang.” (Moon Young tersenyum) “Jadi di antara keduanya, siapa yang sudah meninggal? Siapa yang benar-benar meninggal?”

Nam Joo-ri : “Ayahmu….Tidak… Pak Go Dae Hwan. Dia akan mengalami kondisi kritis jika tk secepatnya dioperasi. Kemampuan kognitifnya…”

Moon Young : “Orang lain akan mengira kau adalah anaknya. Benar begitu saja. Kau jadi anak Go Dae-hwan, dan akujadi anak ibumu. Aku akan tanda tangan jika kau setuju. Bagaimana?”

Perawat Nam Joo-ri hanya diam, dan setik berikutnya ia sudah berada di depan lift. Ia berjongkok di dalam lift. Dia mengingat obrolannya tadi, saat Moon Young menandatangani surat persetujuan operasi.

Moon Young : “Masakan ibumu sangat enak. Haruskan aku mengunjunginya, dan makan bersama seperti dahulu? (Moon Young melihat kearah Joo-ri, dan Joo-ri hanya diam saja) “Selera humor kita masih saja berbeda. Tidak menyenangkan”

Di dalam lift Joo-ri masih berjogkok, marah dan melempar surat itu dan dia menangis.

Nam Joo-ri : “Menjengkelkan sekali.”

Di perjalanan pulang, Kang Tae dan temannya masih mendorong speda motor.

Jae soo : “Dasar sinting. Wanita itu menulis buku dongeng anak? Aneh sekali.”

Kang Tae : “Dia tidak sinting. Dia hanya terlahir seperti itu.

Jae soo : “Pengalaman selama sepuluh tahun menjadi perawat membuatmu bisa menilai dari tatapn saja?”

Kang Tae : “Jangan berlebihan.”

Jae soo : “Aku berharap kau bersikap berlebihan. Gara-gara mereka, kau tertusuk dan dipecat. Kau juga diam saja? Seharusnya buat keributan”

Kang Tae : “Jika begitu, mungkin akan terasa lega, tapi tak dapat pesangon.

Jae soo : “Bagus. Sang Tae dikeluarkan dari sekolah, dan kau dipecat dari tempat kerjamu. Kalian sungguh membuatku sedih.”

Kang Tae : “Lagi pula sudah saatnya berhenti. Pada saat ini, ketika udara malam jadi hangat, kupu-kupu, akan bermunculan. Benar juga.”

Jae soo : “Masih belum ada tanda dari Sang Tae?”

Kang Tae : “Belum”

Jae soo : “Kemana kita harus pergi selnajutnya?” (mereka berdua tertawa) “Haruskah kita ke luar negeri?”

Kang Tae : “Kau punya paspor?”

Jae soo : “Kita ajari Sang-Tae bahasa inggris.”

Kang Tae : “Jae soo, jangan beritahu Sang Tae.”

Jae soo : “Kau hanya peduli kakakmu. Aku sudah muak. Kau membuat ku cemburu.” (Tiba-tiba Kang Tae tersentak karena ingat sesuatu.) “Mengagetkan saja!”

Kang Tae : “Haah….”

Jae soo : “Kenapa? Wanita itu memukul kepalamu juga?”

Kang Tae : “Aku lupa meminta tanda tangannya. Aku sudah janji memintanya.”

Jae soo : “Kepalamu terbentur?”

Kang Tae : “Bagaimana ini Jae soo?”

Jae soo : “Astaga”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALGORITMA INITIAL ASSESSMENT TRAUMA

Jika anda menemukan pasien trauma, yang harus anda lakukan adalah : 3A : AMANKAN DIRI (APD) AMANKAN LINGKUNGAN AMANKAN PASIEN Cek Kesadaran ...