Moon Young : “Apa kau pernah membunuh? Kau
tak punya nyali untuk hidup, tapi tak mau mati seorang diri. Jadi kau
menggunakan anakmu untuk membuka jalan kematian?”
Ayah Go-eun : “Apa?”
Moon Young : “Jangan menjadi pecundang.
Mati saja seorang diri.
Ayah Go-eun : “Dasar wanita gila!” (mendekat kearah
Moon Young dan Mon Young memukulkan tasnya pada pasien itu, isi tas berserakan,
dan pisau restoran yang Moon Young ambil, keluar dari dalam tasnya. Pasien dan
Moon Young sama sama melihat pisau itu, si pasien berusaha mengambil pisau itu,
tapi belum sampai untuk mengambil, Moon Young menginjak tangan pasien itu
dengan sepatu high heels nya kemudian menendang pisau itu agar lebih jauh dari
jangkauan pasien.. Si pasian marah dan bangun kemudian menyerang Moon Young,
dan Moon Young jatuh kelantai dan di cekik oleh pasien itu. Go-eun berlari
keluar dari ruangan itu, dan setelah keluar ruangan, di depan pintu ia bertemu
dengan Kang Tae.
Kang Tae : “Kau
baik-baik saja?”
Go-eun : “Ayahku
di sana…” (Kang Tae menenangkan anak itu, dan Kang Tae mengeluarkan ponselnya
dari saku dan menelpon petugas RS lainnya, di dalam ruangan Ayah Go-eun masih
mencekik) Moon Yeong.
Ayah Go-eun : “Aku akan membunuh mu.
Beraninya ikut campur! Dia anakku! Aku berhak membunuhnya jika mau!”
Moon Young : “Cekik aku.Lebih keras.
Bedebah.”
Ayah Go-eun : “Dasar gila! Enyah! Mati
kau!”
(Moon Young
terlihat pasrah, dia seperti melihat Wajah Ayahnya pada Ayah Go-eun, posisinya
sangat mirip, dimana dulu saat Moon Young masih kecil, Ayah Moon Young juga
pernah mencekiknya dan dia juga ingat kata-kata ayahnya dulu saat mencekiknya “Ini
akan berakhir dengan cepat. Hanya sebentar saja. Ini akan berakhir dengan
cepat.” Dan Moon Young kecil
mencakar tangan kanan ayahnya hingga berdarah, dan menyisakan bekas hingga
sekarang)
Ayah Go-eun : “Enyah! Mati Kau! Mati!”
Setelah itu,
Kang Tae masuk ke dalam ruangan
Kang Tae : “Pak Kim Seung Cheol!”
Kang Tae segera
menarik pasien itu agak berhenti mencekik. Dan Moon Young akhirnya terbebas, ia
terlihat batuk-batuk. Dan Kang Tae sedang bergulat dengan pasien. Pasien
berhasil mendorong Kang Tae hingga mengenai alat pencahayaan panggung. Moon
Young bangun dan mengambil pisaunya tadi. Kang Tae berhasil meringkus pasien
dan mengikat kedua tangan pasien di belakang, menggunakan infus set yang dia
ambil sebelumya di ruang tindakan atau penyimpanan alat medis. Moon Young
mendekati pasien dan melayangkan pisauny kearah pasien. Tapi Kang Tae menahan
pisau itu dengan menggenggamnya, hingga terlihat darah mengucur ke lantai.
Mereka berdua saling menatap.
Moon Young : “Rupanya, ini bukan takdir.
Aku berharap kau tidak ikut campur. ”
Kang Tae : “Lepaskan pisaunya. Dia adalah
pasien.”
Moon Young : “Bukan. Dia bukan pasien. Tapi
hama.”
Ayah Go-eun : “Apa kau sudah gila? Kau
benar-benar sudah gila! Kau seperti psikopat!”
(Ayah Go-eun
berlari keluar ruangan, Moon Young dan Kang Tae masih di ddalam ruangan, Moon
Young melihat kepergian pasien itu, dan Kang Tae memanfaatkan kesempatan untuk
mengambil pisau itu dari tangan Moon Young.)
Ayah Go-eun : “Dasar wanita gila! Aku
nyaris mati karena wanita itu!” (Dan di pintu keluar petugas medis
lain sudah datang dan menangkap pasien) “Lepaskan aku! Jangan tangkap aku,
tapi dia! Tangkap wanita gila itu. Lepaskan aku! Sudah kubilang, tangkap wanita
gila itu! Lepaskan!”
Dari dalam
ruangan, Moon young dan Kang tae mendengar teriakan pasien itu. Kang Tae
mengeluarkan saputangan dari dalam sakunya. Dan membungkus pisau yang masih ia
genggam. Moon Young memperhatikan itu.
Moon Young : “Apa pisaunya terluka? Kenapa
kau membalut pisaunya? Jika dia mengalami gangguan jiwa, aku hanya membela
diri. Aku hanya berniat memberi sedikit sayatan. Kau terluka karena terlalu
berlebihan. Berikan kepadaku.” (Kang Tae menatap Moon Young) “Bukan
pisau, tapi tanganmu” (Moon Young
mengambil pisau yang sudah dibalut itu dari tangan Kang Tae. Kemudian melempar
pisau itu kebelakang dan mengambil saputanganya untuk membalut tangan Kang
Tae.) “Ini pelayanan special dariku. Apa kau tahu? Di dunia ini, ada
orang-orang yang pantas mati mengenaskan. Berkat beberapa psikopat. Yang
diam-diam mebunuh mereka. Warga yang tak tahu apapun, bisa tidur dan makan
dengan tenang” (Moon Young mengikat saputangan itu dengan kencang hingga
Kang Tae mengernyit) “Menurutmu aku yang mana? (Mereka saling menatap)
Kang Tae : “Psikopat yang tak tahu apapun.”
(Moon Young tersenyum)
Di ruang tindakan
terlihat dokter sedang menjahit tangan Kang Tae yang terkena pisau.
Dokter : “Astaga. Berkatmu kemampuan
menjahitku meningkat. Mulai sekarang, berhenti melukai diri sendiri.” (Kang Tae hanya
diam termenung saat tangannya dijahit) “Perawat Moon?” (Kang Tae tidak
menjawab, karena dia sibuk termenung, dokterpun memanggilnya lagi) ”Perawat
Moon Kang Tae?” (Kang Tae pun tersadar dari lamunannya)
Kang Tae : “Ya?”
Dokter : “Apa yang sedang kau pikirkan?
Sudah selesai.”
Di lobi rumah
sakit, CEO Lee Sang-In sedang berjalan keluar RS bersama Moon Young
Lee Sang-In : “Baiklah. Anggap saja acara
hari ini berantakan akibat keributan yang dibuat oleh pasien yang kabur itu.
Tapi bagaimana dengan penusukan? Bagaimana menjelaskannya? Kudengar ada petugas
rumah sakit yang terluka. Bagaimana jika mereka mengeluarkan berita? Penulis
buku dongeng anak mengayunkan pisau. Apa novel berikutnya seni bela diri?
Bagaimana jika berita seperti itu muncul?”
Moon Young : “Gunakan uang mu, Sudah
sering, kan?”
Lee Sang-In : “Bagaimana jika tidak
berhasil?”
Moon Young : “Rayu dengan jebakan pesonaku”
(CEO menghela nafas dan memegang leher belakangnya, mereka sampai di
pintu keluar dan mobil yang di kendarai art director Yoo Seung Jae sudah tiba,
CEO berlari menghampiri mobil dan mebuka pintu belakang, Moon Young hanya
menatapnya, dan kemudian memakai kacamata hitamnya) “Kau saja. Aku ada
urusan.”
Lee Sang-In : “Urusn apa?” (Moon Young
Langsung berbalik dan masuk lagi ke rumah sakit. “Hei, Go Moon Young. Apa
dia mau membuat onar lagi?”
Di suatu
ruangan, Kang Tae sedang dimarahi oleh manager RS.
Manager RS : “Pasien yang seharusnya di
ruang isolasi membuat keributan di acar mendongeng. Karena kejadian itu,
panggilan pengaduan dari wali pasien terus masuk. Aku harus segera mencari
kambing hitam.
Kang Tae : “Apa itu aku?”
Manager RS : “perawat yang bertanggungjawab
baru bekerja dua bulan. Tidak mungkin jika memecatnya. Jika melihat daftar
riwayat hidupmu. Selama sepuluh tahun pengalaman kerjamu, kau sudah bekerja di
15 rumah sakit. Selalu kurang dari satu tahun. Kau sudah bekerja disini selama
sepuluh bulan. Sudah saatnya kau berhenti, kan? Kau akan dianggap sudah bekerja
satu tahun dan akan mendapat pesangon. Mari kita selesaikan disini”
Kang Tae
terlihat mengembalikan kartu identits pegawainya dan sudah mengenakan baju
biasa dan menjinjing tasnya,, bersiap untuk pergi dari RS. Perawat laki-laki
yang sebenarnya harus bertanggungnya jawab atas insiden kaburnya pasien.
Memanggil Kang Tae, Tapi Kang Tae hanya geleng-geleng, seolah-olah berkata
tidak apa-apa sambil tersenyum. Tapi saat berbalik badan dan berjalan keluar
ruangan ekspresi Kang Tae berubah
Di suatu hotel,
terlihat Moon Yeong sedang membersihkan diri di Toilet, dan CEO Lee Sang-In ada
di ruang tamu, dia hendak menelpon seseorang. ”Halo, ini aku. Tolong berikan
aku kontak perawat yang ditusuk Moon Young. Berikan saja! Aku harus lkukan
sesuatu untuk menutup mulutnya. Ini bukan pertama kalinya.”
Di halte bus,
Kang Tae terlihat duduk di halte bus, saat bus datang Kang Tae tetap duduk
termenung, dan tidak naik ke bus itu. Ponselnya bordering terlihat nomor tidak
dikenal menelpon, Kang Tae menolak telpon itu, dan memasukkan kembali
ponselnnya ke dalam saku. Kemudian, teman Kang Tae, Joo Jae soo datang
mengendarai sepeda motor, dan membuka helmnya.
Jae-soo : “Aku sedang mengantar makanan,
dan melihat kau duduk di pinggir jalan, seperti ayam yang kesakitan” (mereka
tersenyum, lalu Jae-soo melemparkan helm satunya lagi ke Kang Tae) “Naiklah!
Aku akan mengantarmu.”
Kang Tae : “Dasar gila.”
Jae-soo : “Kau terluka lagi?”
Di depan lobi
hotel terlihat perawat Nam Joo-ri datang dengan taksi, sepertinya ia akan
bertemu Moon Young dan memberikan surat persetujuan operasi pada Moon Young. Di
dalam ruang tamu kamar Moon Young, CEO sedang pusing, ternyata dia yang
menelpon Kang Tae, dia pusing karena telponnya tidak diangkat “Apa sengaja
tak diangkat? Jika tak diangkat, dia mungkin menggugat ke pengadilan.” (Tiba-tiba
ponsel CEO bordering, ternyata itu telpon dari perawat Nam Joo-ri yang
mengatakan kalau dia sudah sampai. CEO pun segera mengambil barang-barangnya
dan engendap ngendap untuk keluar dari kamar itu. Setelah itu, bel pintu
berbunyi. Dari dalam kamar mandi Moon Young berteriak “Apa kau memesan
layanan kamar?” Tapi tidak ada jawaban, Moon Young pun keluar untuk membuka
pintu “Kemana dia?” saat membuka pintu Moon Youn dan Nam Joo-ri saling
bertatapan.
Di jalan Kang Tae
dan temannya sedang mengendarai motornya. Tiba tiba saja motor teman Jae-soo
mogok, dan mereka terpaksa pulang berjalan kaki sambil menuntun motor yang
mogok itu, dan Kang Tae membantu mendorong motor. Saat sedang berjalan..
Jae-soo : “Kang Tae, Aku benar tidak
apa-apa. Sang Tae menunggu dirumah. Naik taksi dan pergilah. Ini tidak berarti
kau meninggalkanku! Aku memahamiku! Ini Soal persahabatan dan kesetiaan! (*Hahaha disini
lucu Jae-soo ngmong sambil triak triak dan mendramatisir*)
Kang Tae : “Berisik. Terus dorong saja.”
Jae-soo : “Baiklah.”
Di dalam hotel kamar Moon Young, perawat Nam
Joo-ri sedang memegang surat persetujuan wali. Nam Joo-ri menunduk, sedangkan
Moon Young terus memandang Joo-ri dengan seksama.
Moon Young : “Ku banyak berubah. Aku nyaris
tidak mengenalimu karena kau melepas kenorakanmu.” (Perawat Nam
Joo-ri melihat kearah Moon Young dan tersenyum) “Setelah aku pindah sekolah,
sudah 20 tahun kita tak bertemu, ya?”
Nam Joo-ri : “Ya. Kau hanya perlu tanda
tangan di sini. Kau pasti sudah mendengar penjelasannya melalui telepon.
Seharusnya kau datang dan…”
Moon Young : “Hanya untuk sebuah tanda
tangan di dokumen ini, kau menempuh jarak tiga jam kemari. Ini rasa tanggung
jawab, atau sikap berlebihan?”
Nam Joo-ri : “Karena rumah sakit kami hanya
menangani pasien gangguan mental, semua operasi bedah dilakukan di rumah sakit
rujukan. Untuk kasus ayahmu…”
Moon Young : “Dia sudah mati. Aku anak
yatim. Kau tahu, kan?”
Nam Joo-ri : “Tapi ibumu masih hidup….”
Moon Young : “Sudah lama kudaftarkan meninggal.
Mau kuceritakan kisah lucu? Jiwa yahku telah tiada, tapi raganya masih hidup
seperti zombie. Sementara ibuku, raganya telah tiada sejak lama, tapi… jiwanya
masih hidup sampai sekarang.” (Moon Young tersenyum) “Jadi di
antara keduanya, siapa yang sudah meninggal? Siapa yang benar-benar meninggal?”
Nam Joo-ri : “Ayahmu….Tidak… Pak Go Dae
Hwan. Dia akan mengalami kondisi kritis jika tk secepatnya dioperasi. Kemampuan
kognitifnya…”
Moon Young : “Orang lain akan mengira kau
adalah anaknya. Benar begitu saja. Kau jadi anak Go Dae-hwan, dan akujadi anak
ibumu. Aku akan tanda tangan jika kau setuju. Bagaimana?”
Perawat Nam
Joo-ri hanya diam, dan setik berikutnya ia sudah berada di depan lift. Ia
berjongkok di dalam lift. Dia mengingat obrolannya tadi, saat Moon Young
menandatangani surat persetujuan operasi.
Moon Young : “Masakan ibumu sangat enak.
Haruskan aku mengunjunginya, dan makan bersama seperti dahulu? (Moon Young
melihat kearah Joo-ri, dan Joo-ri hanya diam saja) “Selera humor kita masih
saja berbeda. Tidak menyenangkan”
Di dalam lift
Joo-ri masih berjogkok, marah dan melempar surat itu dan dia menangis.
Nam Joo-ri : “Menjengkelkan sekali.”
Di perjalanan
pulang, Kang Tae dan temannya masih mendorong speda motor.
Jae soo : “Dasar sinting. Wanita itu menulis
buku dongeng anak? Aneh sekali.”
Kang Tae : “Dia tidak sinting. Dia hanya
terlahir seperti itu.
Jae soo : “Pengalaman selama sepuluh tahun
menjadi perawat membuatmu bisa menilai dari tatapn saja?”
Kang Tae : “Jangan berlebihan.”
Jae soo : “Aku berharap kau bersikap
berlebihan. Gara-gara mereka, kau tertusuk dan dipecat. Kau juga diam saja?
Seharusnya buat keributan”
Kang Tae : “Jika begitu, mungkin akan
terasa lega, tapi tak dapat pesangon.
Jae soo : “Bagus. Sang Tae dikeluarkan dari
sekolah, dan kau dipecat dari tempat kerjamu. Kalian sungguh membuatku sedih.”
Kang Tae : “Lagi pula sudah saatnya
berhenti. Pada saat ini, ketika udara malam jadi hangat, kupu-kupu, akan
bermunculan. Benar juga.”
Jae soo : “Masih belum ada tanda dari Sang
Tae?”
Kang Tae : “Belum”
Jae soo : “Kemana kita harus pergi
selnajutnya?” (mereka berdua tertawa) “Haruskah kita ke luar negeri?”
Kang Tae : “Kau punya paspor?”
Jae soo : “Kita ajari Sang-Tae bahasa
inggris.”
Kang Tae : “Jae soo, jangan beritahu Sang
Tae.”
Jae soo : “Kau hanya peduli kakakmu. Aku
sudah muak. Kau membuat ku cemburu.” (Tiba-tiba Kang Tae tersentak
karena ingat sesuatu.) “Mengagetkan saja!”
Kang Tae : “Haah….”
Jae soo : “Kenapa? Wanita itu memukul
kepalamu juga?”
Kang Tae : “Aku lupa meminta tanda tangannya.
Aku sudah janji memintanya.”
Jae soo : “Kepalamu terbentur?”
Kang Tae : “Bagaimana ini Jae soo?”
Jae soo : “Astaga”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar